METODE
PEMBELAJARAN EFEKTIF
Kurnia Wahyuni
Pembelajaran
adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan
kepada anak-anak kita. Karena ia merupakan kunci sukses unutk menggapai masa
depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan
yang tinggi. Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa, negara, dan agama.
Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan
efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar mengajar akan
berjalan menyenangkan dan tidak membosankan. [1]
Metode
pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang
sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai
secara optimal. Ini berarti metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang
telah ditetapkan. Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat
tergantung pada cara guru menggunakan motode pembelajaran, karena suatu
strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui penggunaan
metode pembelajaran.[2]
Di bawah ini adalah beberapa metode
pembelajaran efektif, yang mungkin bisa kita persiapkan dalam proses
pembelajaran:
1.
Metode Diskusi
Metode diskusi adalah metode pembelajaran
yang menghadapkan peserta didik pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode
ini adalah untuk memecahkan permasalahan, menjawab pertanyaan dan memahami
pengetahuan peserta didik, serta untuk membuatu suatu keputusan. Oleh karena
itu, diskusi bukanlah debat yang mengadu arguementasi. Diskusi lebih bersifat
bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.
Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untuk menggunakan metode diskusi
dalam proses pembelajaran. Keberatan itu biasanya timbul dari asumsi; pertama,
diskusi merupakan metode yang sulitu diprediksi hasilnya oleh karena interaksi
antar peserta didik muncul secara spontan, sehingga hasil dan arah diskusi
sulit ditentuan, kedua, diskusi biasanya memerlukan waktu yang cukup
panjang, pada hal waktu pembelajaran di dalam kelas sangat terbatas,
keterbatasan itu tidak mungkin dapat menghasilkan sesuatu secara tuntas.
Sebenarnya hal ini tidak perlu dirisaukan oleh guru sebab dengan perencanaan
dan persiapan yang matang kejadian semacam itu bisa dihindari[3]
2.
Metode Role Playing
Role
playing (bermain peran) adalah sejenis permainan gerak yang di dalamnya ada
tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang. Dalam role
playing siswa dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat
itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain role playing seringkali
dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana anak didik membayangkan
dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang, ia juga
berfungsi sebagai penanam karakter kata atau penggunaan ungkapan.
Dalam
role playing, anak didik diperlakukan sebagai subyek pembelajar yang secara
aktif melakukan praktek-praktek berbahasa (bertanya dan
menjawab dalam bahasa Arab) bersama teman-teman sebayanya pada situasi
tertentu. Belajar yang efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri
anak didik. Lebih lanjut prinsip pembelajaran bahasa menjelaskan bahwa dalam
pembelajaran bahasa, anak didik akan lebih berhasil jika mereka diberi
kesempatan menggunakan bahasa dengan melakukan berbagai kegiatan bahasa. Bila
mereka berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka
pelajari. Jadi, dalam pembelajaran siswa harus aktif. [4]
3.
Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode
pemecahan masalah (problem solving) merupakan cara memberikan pengertian dengan
menstimulasi anak didik untuk memperhatikan,menelaah dan berpikir tentang suatu masalah umtuk selanjutnya menganalisis
mesalah tersebut sebagai upaya untuk memecahkan masalah.
Metode
problem solving bukan hanya metode mengajar
tetapi juga merupakan metode berfikir, sebab dalam problem solving dapat
menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mengumpulkan data sanpai
kepada menarik kesimpulan[5]
4.
Pembelajaran Berbasis Masalah
Model pembelajaran
berbasis masalah adalah sebuah model pembelajaran yang dilakukan dengan adanya
pemberian rangsangan
berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh siswa
yang diharapkan dapat menambah keterampilan siswa dalam pencapaian materi
pembelajaran.[6]
5.
Model Pembelajaran Cooperative Script
Model pembelajaran
Cooperative Script merupakan salah satu cara atau strategi seorang
guru dalam menyampaikan materi pelajaran, yang diawali dengan membagi siswa
kedalam kelompok secil (satu kelompok terdiri dari dua orang/berpasangan),
kemudian membagi materi ajar kepada siswa untuk dipelajari dan membuat
ringkasan materi tersebut. Disini
siswa dilatih untuk memberikan masukkan ide-ide atau gagasan baru kedalam
materi ajar yang diberikan untuk mengomunikasikannya kepada teman sekelompoknya
secara bergantian, siswa akan saling melengkapi satu sama lain. Dalam model
pembelajaran ini mengikutsertakan semua siswa, sehingga semua siswa akan ikut
berperan aktif dalam pembelajaran, dan diharapkan bisa membuat siswa
bersemangat dalam belajar sehingga siswadapat memahami pelajaran dengan lebih
mudah. Dalam cooperative scrip ini mengandung suatu unsur kerjasama dalam
kelompok yang membuat siswa berperan aktif dalam pembelajaran, bukan guru. Guru
bertindak sebagai fasilitator untuk mengarahkan dan motivator bagi siswa[7].
6.
Model Investigasi Kelompok
Metode
investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan
paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini
melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara
untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk
memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan
proses kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan metode
investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang
beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian
kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat
terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari,
mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih,
kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara
keseluruhan.[8]
7.
Metode Karya
Wisata
Karya wisata (field trip) ialah
pesiar yang dilakukan oleh para peseta didik untuk melengkapi pengalaman
belajar bertentu dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Dengan
menggunakan karya wisata sebagai metode belajar mengajar, peserta didik dibawah
bimbingan guru mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan masksud untuk balejar.
Ini berbeda dengan tamasya karena hanya pergi mencari hiburan, sedangkan karya
wisata peserta didik diikat dengan tujuan dan tugas belajar.[9]
8.
Metode Kerja
Kelompok
Istilah kerja kelompok dipakai untuk merangkung
pengertian pada situasi peserta didik berada dalam satu kelompok dan dipandang
satu kesatuan tersendiri untuk mencari satu tujuan pelajaran dengan bergotong
royong. Metode kerja kelompok,
mengandung pengertian bahwa peserta didik dalam suatu kelas dipandang sebagai
satu kesatuan tersendiri, ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil atau
sub-sub kelompok. Sebagai metode kerja kelompok dapat dipakai mengajar untuk
mencapai bermacam-macam tujuan di sekolah di dalam praktek
Ayat al-qur’an yang berkaitan dengan metode pembelajaran efektif
Makna umum dari ayat ini bahwa
nabi diperintahkan untuk mengajak kepada umat manusia dengan cara-cara yang
telah menjadi tuntunan Al-Qur’an yaitu dengan cara Al-hikmah, Mauidhoh Hasanah,
dan Mujadalah. Dengan cara ini nabi sebagai rasul telah berhasil mengajak
umatnya dengan penuh kesadaran. Ketiga metode ini telah mengilhami berbagai
metode penyebaran Islam maupun dalam konteks pendidikan.
Proses serta metode pembelajaran dan pengajaran yang berorientasi filsafat lebah (An-Nahl) berarti membangun suatu sistem yang kuat dengan “jaring-jaring” (networking) yang menyebar ke segala penjuru. Analogi ini bisa menyeluruh ke peserta didik, guru, kepala sekolah, wali murid, komite sekolah dan instasi lain yang terkait. Sehingga menjadi komponen pendidikan yang utuh, menjadi satu sistem yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.[10]
Proses serta metode pembelajaran dan pengajaran yang berorientasi filsafat lebah (An-Nahl) berarti membangun suatu sistem yang kuat dengan “jaring-jaring” (networking) yang menyebar ke segala penjuru. Analogi ini bisa menyeluruh ke peserta didik, guru, kepala sekolah, wali murid, komite sekolah dan instasi lain yang terkait. Sehingga menjadi komponen pendidikan yang utuh, menjadi satu sistem yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.[10]
An-Nahl ayat 125 :

Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
[2] http://ibrohimnaw.wordpress.com/2009/04/27/metode-pembelajaran-kajian-tafsir-tarbawi/
[3] http://www.referensimakalah.com/2012/06/metode-diskusi-dalam-pembelajaran.html
[4] http://kata-edu.blogspot.com/2012/10/role-playing-dalam-metode-pembelajaran.htmlSelasa,02-07-2013
[5] http://psbfisika.blogspot.com/2012/02/metode-pemecahan-masalah-problem.htm
[6] http://alida-utami.blogspot.com/Alida Utami
[7] http://ijahnurhadijah.blogspot.com/2013/03/model-pembelajaran-cooperative-script.html
[8]http://pendidikan10.blogspot.com/2012/12/metode-investigasi-kelompok
group.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar