1. 2. Read more: http://impoint.blogspot.com/2013/03/cara-membuat-efek-salju-daun-bintang.html#ixzz2QzLgXhdI Dilarang copy paste artikel tanpa menggunakan sumber link - DMCA Protected Follow us: @ravdania on Twitter | pemakan.worell on Facebook

Selasa, 02 Juli 2013

METODE PEMBELAJARAN EFEKTIF

METODE PEMBELAJARAN EFEKTIF
Kurnia Wahyuni
            Pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan kepada anak-anak kita. Karena ia merupakan kunci sukses unutk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi. Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenangkan dan tidak membosankan. [1]

            Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Ini berarti metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan motode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran.[2]
            Di bawah ini adalah beberapa metode pembelajaran efektif, yang mungkin bisa kita persiapkan dalam proses pembelajaran:
1.        Metode Diskusi
     Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan peserta didik pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan permasalahan, menjawab pertanyaan dan memahami pengetahuan peserta didik, serta untuk membuatu suatu keputusan. Oleh karena itu, diskusi bukanlah debat yang mengadu arguementasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama. Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untuk menggunakan metode diskusi dalam proses pembelajaran. Keberatan itu biasanya timbul dari asumsi; pertama, diskusi merupakan metode yang sulitu diprediksi hasilnya oleh karena interaksi antar peserta didik muncul secara spontan, sehingga hasil dan arah diskusi sulit ditentuan, kedua, diskusi biasanya memerlukan waktu yang cukup panjang, pada hal waktu pembelajaran di dalam kelas sangat terbatas, keterbatasan itu tidak mungkin dapat menghasilkan sesuatu secara tuntas. Sebenarnya hal ini tidak perlu dirisaukan oleh guru sebab dengan perencanaan dan persiapan yang matang kejadian semacam itu bisa dihindari[3]
2.        Metode Role Playing
     Role playing (bermain peran) adalah sejenis permainan gerak yang di dalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang. Dalam role playing siswa dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain role playing seringkali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana anak didik membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang, ia juga berfungsi sebagai penanam karakter kata atau penggunaan ungkapan. 
     Dalam role playing, anak didik diperlakukan sebagai subyek pembelajar yang secara aktif melakukan praktek-praktek berbahasa (bertanya dan menjawab dalam bahasa Arab) bersama teman-teman sebayanya pada situasi tertentu. Belajar yang efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri anak didik. Lebih lanjut prinsip pembelajaran bahasa menjelaskan bahwa dalam pembelajaran bahasa, anak didik akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan menggunakan bahasa dengan melakukan berbagai kegiatan bahasa. Bila mereka berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari. Jadi, dalam pembelajaran siswa harus aktif. [4]

3.        Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
     Metode pemecahan masalah (problem solving) merupakan cara memberikan pengertian dengan menstimulasi anak didik untuk memperhatikan,menelaah dan berpikir tentang suatu masalah umtuk selanjutnya menganalisis mesalah tersebut sebagai upaya untuk memecahkan masalah.
     Metode problem solving bukan hanya metode mengajar tetapi juga merupakan metode berfikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mengumpulkan data sanpai kepada menarik kesimpulan[5]
4.        Pembelajaran Berbasis Masalah
     Model pembelajaran berbasis masalah adalah sebuah model pembelajaran yang dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh siswa yang diharapkan dapat menambah keterampilan siswa dalam pencapaian materi pembelajaran.[6]
5.        Model Pembelajaran Cooperative Script
     Model pembelajaran Cooperative Script merupakan salah satu cara atau strategi seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran, yang diawali dengan membagi siswa kedalam kelompok secil (satu kelompok terdiri dari dua orang/berpasangan), kemudian membagi materi ajar kepada siswa untuk dipelajari dan membuat ringkasan materi tersebut. Disini siswa dilatih untuk memberikan masukkan ide-ide atau gagasan baru kedalam materi ajar yang diberikan untuk mengomunikasikannya kepada teman sekelompoknya secara bergantian, siswa akan saling melengkapi satu sama lain. Dalam model pembelajaran ini mengikutsertakan semua siswa, sehingga semua siswa akan ikut berperan aktif dalam pembelajaran, dan diharapkan bisa membuat siswa bersemangat dalam belajar sehingga siswadapat memahami pelajaran dengan lebih mudah. Dalam cooperative scrip ini mengandung suatu unsur kerjasama dalam kelompok yang membuat siswa berperan aktif dalam pembelajaran, bukan guru. Guru bertindak sebagai fasilitator untuk mengarahkan dan motivator bagi siswa[7].
6.        Model Investigasi Kelompok
     Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan.[8]
7.        Metode Karya Wisata
     Karya wisata (field trip) ialah pesiar yang dilakukan oleh para peseta didik untuk melengkapi pengalaman belajar bertentu dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Dengan menggunakan karya wisata sebagai metode belajar mengajar, peserta didik dibawah bimbingan guru mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan masksud untuk balejar. Ini berbeda dengan tamasya karena hanya pergi mencari hiburan, sedangkan karya wisata peserta didik diikat dengan tujuan dan tugas belajar.[9]
8.        Metode Kerja Kelompok
     Istilah kerja kelompok dipakai untuk merangkung pengertian pada situasi peserta didik berada dalam satu kelompok dan dipandang satu kesatuan tersendiri untuk mencari satu tujuan pelajaran dengan bergotong royong.      Metode kerja kelompok, mengandung pengertian bahwa peserta didik dalam suatu kelas dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri, ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil atau sub-sub kelompok. Sebagai metode kerja kelompok dapat dipakai mengajar untuk mencapai bermacam-macam tujuan di sekolah di dalam praktek
Ayat al-qur’an yang berkaitan dengan metode pembelajaran efektif
                Makna umum dari ayat ini bahwa nabi diperintahkan untuk mengajak kepada umat manusia dengan cara-cara yang telah menjadi tuntunan Al-Qur’an yaitu dengan cara Al-hikmah, Mauidhoh Hasanah, dan Mujadalah. Dengan cara ini nabi sebagai rasul telah berhasil mengajak umatnya dengan penuh kesadaran. Ketiga metode ini telah mengilhami berbagai metode penyebaran Islam maupun dalam konteks pendidikan.
                Proses serta metode pembelajaran dan pengajaran yang berorientasi filsafat lebah (An-Nahl) berarti membangun suatu sistem yang kuat dengan “jaring-jaring” (networking) yang menyebar ke segala penjuru. Analogi ini bisa menyeluruh ke peserta didik, guru, kepala sekolah, wali murid, komite sekolah dan instasi lain yang terkait. Sehingga menjadi komponen pendidikan yang utuh, menjadi satu sistem yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.[10]
An-Nahl ayat 125 :

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTBTT-O_SQo8xoK8rD7_JWYFLWn81f1a0J2wRg5T79CUqXT63Lz
Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”




[1] http://nadhirin.blogspot.com/2008/08/metode-pembelajaran-efektif.html
[2] http://ibrohimnaw.wordpress.com/2009/04/27/metode-pembelajaran-kajian-tafsir-tarbawi/
[3] http://www.referensimakalah.com/2012/06/metode-diskusi-dalam-pembelajaran.html
[4] http://kata-edu.blogspot.com/2012/10/role-playing-dalam-metode-pembelajaran.htmlSelasa,02-07-2013
[5] http://psbfisika.blogspot.com/2012/02/metode-pemecahan-masalah-problem.htm
[6] http://alida-utami.blogspot.com/Alida Utami
[7] http://ijahnurhadijah.blogspot.com/2013/03/model-pembelajaran-cooperative-script.html
[8]http://pendidikan10.blogspot.com/2012/12/metode-investigasi-kelompok group.html
[9] http://ridwan202.wordpress.com/artikel/metode-pembelajaran-efektif/

[10] http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajaran-role-playing-dan.html on Friday, 31 August 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar