Nama : Kurnia Wahyuni
NIM :
D32211042
Makul : Ilmu Al-Lughah Al-Tathbiqy (B)
LINGUISTIK TERAPAN
Dewasa
ini, perkembangan linguistik sangat pesat. Aspek lain yang berkaitan dengan
bidang-bidang kajian bahasa juga berkembang. Kajian tentang bahasa tidak hanya
meliputi satu aspek saja, tetapi telah meluas ke bidang atau aspek-aspek di
luar bahasa yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dan kehidupan manusia.
Teori
linguistik terapan merupakan cabang linguistik yang memusatkan perhatian pada
teori umum dan metode-metode umum dalam penelitian bahasa. Cabang linguistik
bisa terbagi atas fonologi, morfologi, sintaksis, dan Semantik.[1]
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kajian tentang linguistik lanjut
sangat luas dan menarik untuk diperbincangkan di kesempatan berikutnya:
1. Fonologi
Pengertian Fonologi adalah bagian
tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara umum.
Istilah fonologi, yang berasal dari gabungan kata Yunani phone 'bunyi' dan
'logos' tatanan, kata, atau ilmu' disebut juga tata bunyi. Bidang ini meliputi
dua bagian :
·
Fonetik
Fonetik, yaitu bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan
bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap
manusia.
·
Fonemik
Fonemik yaitu bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran
menurut fungsinya sebagai pembeda arti. Bunyi ujaran yang bersifat netral, atau
masih belum terbukti membedakan arti disebut fona, sedang fonem ialah satuan
bunyi ujaran terkecil yang membedakan arti. Variasi fonem karena pengaruh
lingkungan yang dimasuki disebut alofon. Gambar atau lambang fonem dinamakan
huruf. Jadi fonem berbeda dengan huruf.
2. Morfologi
Cabang linguistik yang
mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal.
Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh
perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan
kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata
serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun
fungsi semantik.
3. Sintaksis
Sintaksis merupakan tata bahasa
yang membahas hubungan antarkata dalam tuturan. Sama halnya dengan morfologi,
akan tetapi morfologi menyangkut struktur gramatikal di dalam kata.
Unsur bahasa yang termasuk di dalam
sintaksis adalah frase, kalusa, dan kalimat. Tuturan dalam hal ini menyangkut
apa yang dituturkan orang dalam bentuk kalimat. Kalimat merupakan satuan atau
deretan kata-kata yang memiliki intonasi tertentu sebagai pemarkah
keseluruhannya dan secara ortografi biasanya diakhiri tanda titik atau tanda
akhir lain yang sesuai.
4. Semantik
Semantik (Bahasa Yunani:
semantikos, memberikan tanda, penting, dari kata sema, tanda) adalah cabang
linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau
jenis representasi lain. Semantik biasanya dikontraskan dengan dua aspek lain
dari ekspresi makna: sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang
lebih sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh agen atau
komunitas pada suatu suatu kondisi atau konteks tertentu.
Disamping Ada beberapa ilmu yang
berhubungan dengan linguistik terapan sebagai objek kajiannya[2],
antara lain:
1.
Linguistik terapan atau ilmu-ilmu
tentang aspek-aspek bahasa, dan dalam hal ini bahas digunakan dalam arti
harfiyah. Inilah yang disebut pure linguistik atau linguistic murni.
2.
Ilmu-ilmu tentang bahasa, dan dalam
hal ini, istilah bahasa digunakan dalam arti metaforis atau kiasan. Contoh ilmu
yang termasuk kategori ini adalah kinesik dan paralinguistik. Paralinguistik
adalah ilmu yang memusatkan perhatiannya pada aktifitas-aktifitas tertentu yang
mengiringi pengucapan bahasa.
3.
Ilmu tentang pendapat-pendapat
mengenai bahasa. Contohnya metalinguistik, yakni ilmu yang membicarakan seluk
beluk “bahasa” yang dipakai untuk menerangkan bahasa yang tercermin dalam
istilah studi teori linguistik, studi metode linguistik dan lain-lain.
4.
Ilmu-ilmu mengenai ilmu bahasa.
Yang termasuk kategori ini adalah studi-studi yang mengkhususkan dirinya pada
ilmu linguistik itu sendiri, sperti studi tentang sejarah perjalanan ilmu
linguistik, studi linguistik pada abad ke dua puluh dan lain-lain.
Dari
keempat jenis ilmu tersebut di atas, maka hanya nomor (1) saja yang bisa
disebut sebagai ilmu linguistik yang murni karena objeknya bahasa yang
benar-benar bahasa, sedangkan objek keatiga ilmu lainnya bukanlah bahasa dalam
pengertian sehari-hari . Bahasa yang menjadi objek linguistik terapan
dipelajari dari berbagai aspeknya atau tatarannya. Tataran bahasa itu meliputi
aspek bunyi, morfem dan kata, frase dan kalimat serta aspek makna.
Cabang
linguistik yang mempelajari aspek bunyi bahasa adalah fonologi. Tataran morfem
atau kata dipelajari dalam morfologi. Tataran frase/kalimat dibahas dalam
sintaksis. Sedangkan aspek makna bahasa dipelajari dalam ilmu tersendiri yang
disebut semantik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa cabang-cabang
linguistik ditinjau dari tatarannya terdiri dari fonologi, morfologi, sintaksis
dan semantik.
Berpijak
pada apa yang telah dikemukakan oleh Ramelan tersebut di atas, maka jelaslah
bahwa objek kajian linguistik adalah bahasa. Istilah bahasa memang sering
disalahfahami oleh orang. Sebagian orang menganggap bahasa mencakup semua
sarana yang bisa digunakan sebagai alat komunikasi seperti tulisan, isyarat,
gerakan tangan dan bibir yang digunakan oleh kelompok orang tuli dan bisu dan
lain-lain.
Oleh
karena itu perlu ada definisi yang jelas mengenai bahasa yang menjadi objek
kajian linguistik. Dalam ilmu linguistik bahasa juga diartikan sebagai alat
komuniasi yang dengannya pesan dapat tersampaikan. Namun demikian, ada
perbedaan antara bahasa dengan alat komunikasi yang lain berkaitan dengan
medianya. Sebagai contoh, dalam tulisan, medianya adalah simbol-simbol
tertulis, dalam isyarat medianya adalah gerakan tubuh.
Sedangkan
dalam bahasa, media yang digunakan untuk berkomunikasi adalah bunyi-bunyi
ujaran yang dihasilkan oleh alat organ manusia. Oleh karena itu, dalam
perspektif ilmu linguistik, sistim atau alat komunikasi lain yang tidak
menggunakan bunyi ujaran sebagai medianya tidak termasuk bidang kajian
linguistik. Dari sini jelaslah bahwa objek kajian linguistik adalah sistim
bunyi yang terartikulasi dan digunakan oleh manusia dalam komunikasi antar
mereka.
Linguistik
terapan menggunakan metode ilmiah seperti metode induktif dan deduktif dalam
meneliti bahasa. Metode induktif digunakan dalam menyusun generalisasi dari
hasil penelitian yang diambil dari observasi-observasi yang mendalam. Sedangkan
metode deduktif digunakan pada saat seorang linguis ingin menguji validitas
atas teori atau hukum yang telah mapan sebelum ia melakukan penelitian.
Ciri
ilmu yang terakhir adalah bahwa ilmu itu tidak bersifat statis tetapi dinamis.
Kedinamisan linguistik ditandai dengan keterbukaannya terhadap perubahan
terutama jika ada data tambahan atau penemuan baru yang menolak teori-teori
sebelumnya.[3]
Dapat
di simpulkan berarti, linguistik adalah ilmu yang selalu tumbuh dan berkembang
serta senantiasa memperhatikan temuan-temuan baru. Ini berarti mereka yang
menyebut dirinya seorang linguis harus bersikap terbuka dan senantiasa menerima
kebenaran-kebenaran baru dari hasil penelitian kebahasaan yang ada. Ketika
seorang linguis meneliti bahasa dan membuat kesimpulan atas penelitiannya, ia
tidak boleh menganggap kesimpulannya sebagai kebenaran final.
Jadi,
apa yang benar pada saat tertentu belum tentu dianggap benar pada saat yang
lain akibat adanya bukti atau data yang baru yang menggugurkannya. Dengan
demikian pencarian kebenaran ilmiah merupakan suatu proses yang tidak akan
pernah berhenti, dan inilah kekuatan sebuah ilmu yang akan selalu mengikuti
perkembangan zaman dan kemajuan.
DAFTAR PUSTAKA
Carral,
John. 1968. Linguistic dan Interferensi. Jakarta: Alatis.
Samsuri.
1986. Sumbangan Linguistik Umum bagi Pengajaran bahasa. Malang: FPS.
Sartono. 1987. Linguistic :
Teori dan Terapan. Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atmajaya.
[1] John Carral, Linguistik dan Interferensi,
(Jakarta: Alatis, 1968) Hal. 113-122.
[2]
Samsuri, Sumbangan Linguistic Umum Bagi Pengajaran Bahasa, (Malang: FPS,
1986) Hal. 72.
[3]
Sartono, Linguistic : Teori dan Terapan, (Jakarta: Lembaga Bahasa Unika
Atmaja, 1987), Hal. 102.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar