Semasa kecil kami belum mengerti
apa arti pengorbanan seorang ayah
selalu berjuang demi kebutuhan anak mu
tanpa mengenal waktu
engkau rela di hina dan di maki
demi anak-anak mu
Senin, 08 Juli 2013
Selasa, 02 Juli 2013
mp3 cutter
to listen to this audio mp3 follow the following ways:
1. click here
2. click the button / download button next to the share button
3. then enter the code and click the download button .....
4. have a nice listening
4. have a nice listening
file rar (tugas teknology)
cara melihat file rar (tugas teknology)ikuti langkah berikut ini :
1. klik disini
2. klik button/tombol download yang berada di samping tombol share
3. kemudian masukkan kode dan klik tombol download.....
4. selamat melihat
CARA PASANG FILE RAR DI BLOG
CARA PASANG FILE RAR DI BLOG
Langkah pertama yang harus dipersiapkan adalah
> membuat file dulu menjadi RAR untuk lengkapnya silahkan KLIK
> setelah file selesai dibuat upload lah file rar anda di ziddu atau di SINI dan harus register dulu untuk bisa upload filenya
> Kemudian upload file terus klik My file
> Kemudian klik Share
> Kemudian Klik Send mail dan akan muncul halaman baru kita tutup halaman itu
> Atau langkah kedua beri centang pada tulisan file name terus klik share all bila file yang anda upload banyak
> bila tidak di sharekan maka file kita tidak bisa di download orang lain
> kemudian Klik link dan halaman link ini yang nantinya kita copy pastekan di blog kita.
METODE PEMBELAJARAN EFEKTIF
METODE
PEMBELAJARAN EFEKTIF
Kurnia Wahyuni
Pembelajaran
adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan
kepada anak-anak kita. Karena ia merupakan kunci sukses unutk menggapai masa
depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan
yang tinggi. Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa, negara, dan agama.
Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan
efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar mengajar akan
berjalan menyenangkan dan tidak membosankan. [1]
Senin, 01 Juli 2013
esai linguistik terapan
Nama : Kurnia Wahyuni
NIM :
D32211042
Makul : Ilmu Al-Lughah Al-Tathbiqy (B)
LINGUISTIK TERAPAN
Dewasa
ini, perkembangan linguistik sangat pesat. Aspek lain yang berkaitan dengan
bidang-bidang kajian bahasa juga berkembang. Kajian tentang bahasa tidak hanya
meliputi satu aspek saja, tetapi telah meluas ke bidang atau aspek-aspek di
luar bahasa yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dan kehidupan manusia.
metode langsung dan metode alami
Metode Langsung (Direct
Method)
Metode langsung yaitu suatu cara menyajikan materi pelajaran Bahasa Asing
dimana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa
pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikit pun dalam
mengajar. Jika ada suatu kata- kata yang sulit dimengerti anak didik, guru
dapat mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemonstrasiakan,
menggambarkan dan lain- lain.[1]
metode langsung dan metode alami
Metode Langsung (Direct
Method)
Metode langsung yaitu suatu cara menyajikan materi pelajaran Bahasa Asing
dimana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa
pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikit pun dalam
mengajar. Jika ada suatu kata- kata yang sulit dimengerti anak didik, guru
dapat mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemonstrasiakan,
menggambarkan dan lain- lain.[1]
Metode ini lahir sebagai reaksi terhadap penggunaan metode nahwu wa
tarjamah yang mengajarkan bahasa seperti bahasa yang mati. Dan sebelumnya sejak
tahun 1850 telah banyak muncul propaganda yang mengampanyekan agar menjadikan
pengajaran bahasa asing itu hidup, menyenangkan dan efektif. Propaganda ini
menuntut adanya perubahan yang mendasar dalam metode pengajaran bahasa asing.
Sehingga secara cepat lahirlah metode pembelajaran baru yang disebut dengan
metode langsung.
Dalam metode ini selama mengajar guru berlangsung menggunakan bahasa yang
diajarkan, sedangkan bahasa pelajar tidak boleh digunakan. Langkah-langkah
pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan metode langsung, yaitu: memilih
topic yang sesuai dengan taraf kemampuan peserta didik.Kemudian guru
mengucapkan kata-kata atau kalimat yang sesuai dengan tingkat kemampuan anak
didik dengan menggunakan alat peraga bila diperluka (Ibrasyi, 1955:264).Hal ini
sesuai dengan Yusuf (1997:193) yang mengatakan bahwa dalam pembelajaran bahasa
Arab perlu dipersiapkan materi dengan baik dan ditetapkan topic pembahasan.
Materi disesuaikan dengan taraf perkembangan dan kemampuan anak didik,dan
dimulai dengan kata-kata yang dapat dimengerti anak didik. Yusuf,
1997:193).Lebih lanjut Ahmad Fauzi (1998:14). Mengatakan bahwa dalam
mengajarkan bahasa Arab dengan menggunakan metode langsung perlu dijelaskan
dengan menggunakan alat peraga, sedangkan arti yang abstrak dijelaskan melalui
asosiasi. Dansejak permulaan peserta didik dilatih cara berfikir menurut bahasa
yang diajarkan.Demikian juga latihan mendengar dan meniru banyak diberikan agar
dapat dicapai penguasaan bahasa secara otomatis.
Metode ini berpijak dari pemahaman, pengajaran bahasa asing tidak sama
halnya dengan mengajar ilmu pasti atau ilmu alam. Jika mengajar ilmu pasti,
siswa dituntut agar dapat menghafal rumus- rumus tertentu, berpikir dan
mengingat, dalam pengajaran bahasa, siswa/anak didik dilatih praktik langsung
mengucapkan kata- kata atau kalimat- kalimat tertentu. Sekalipun kata- kata
atau kalimat tersebut mula- mula masih asing dan tidak dipahami anak didik,
namun sedikit demi sedikit kata- kata dan kalimat- kalimat itu akan dapat
diucapkan dan dapat pula artinya.
Demikian halnya kalau kita perhatikan seorang ibu mengajar bahasa
kepada anak- anaknya mula- mula dengan melatih anak- anaknya langsung dengan
mengajarinya, menuntunnya mengucapkan kata per kata, kalimat per kalimat, dan
anaknya menurutinya meskipun kita lihat terasa lucu. Misalnya ibunya mengajari
“ ayah” maka anaknya menyebutnya “ aah” dan seterusnya. Namun lama
kelamaan si anak mengenali kata- kata itu dan akhirnya ia mengerti pula tentang
maksudnya.
Pada prinsipnya, metode langsung ini sangat utama dalam mengajar bahasa asing,
karena melalui metode ini siswa dapat langsung melatih kemahiran lidah tanpa
menggunakan bahasa ibu(bahasa lingkungannya). Meskipun pada mulanya terihat
sulit anak didik untuk menirukannya, tapi metode ini menarik bagi anak didik.[2]
Ciri- ciri metode ini
antara lain :
·
Tujuan dasar yang diharapkan oleh metode ini adalah mengembangkan kemampuan
siswa untuk berpikir dengan bahasa Arab bukan dengan bahasa ibu siswa.
·
Hendaklah pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan bahasa Arab tidak
menggunakan lain sebagai medianya
·
Percakapan antar individu merupakan bentuk pertama dan yang umum untuk
digunakan dalam masyarakat, sehingga pada awal pembelajaran bahasa Arab
hendaknya percakapan mereka menggunakan kosakata dan susunan kalimat sesuai
dengan maksud dan tujuan belajar siswa.
·
Diawal pembelajaran siswa dikondisikan untuk mendengarkan kalimat- kalimat
sempurna dan mempunyai makna yang jelas, sehingga siswa mampu dan mudah
memahaminya.
·
Nahwu adalah sebagai alat untuk mengatur ungkapan bahasa. Sehingga pelajaran
nahwu diberikan tidak secara khusus tetapi diajarkan disela- sela
penggunaan ungkapan- ungkapan bahasa dan kalimat- kalimat yang muncul dalam
percakapan.
·
Teks arab tidak disajikan kepada siswa sebelum mereka mengenal suara,
kosakata serta susunan yang ada didalamnya. Dan juga siswa tidak menulis teks
Arab sebelum mereka bisa membaca dengan baik serta memahaminya.
·
Penerjemahan dari dan ke bahasa Arab adalah sesuatu yang harus dihindari
dalam metode ini, sehingga tidak dibenarkan menerjemahkan bahasa Arab dengan
bahasa apapun.
·
Pengembangan ketrampilan kognitif siswa seperti kemampuan analogis dan
analisis merupakan hal yang tidak boleh menyibukkan perhatian pemakai model
ini.
·
Penjelasan kata- kata dan kalimat yang sulit cukup dengan menggunakan
bahasa Arab dengan berbagai model, seperti syarhul al- makna, murodif (sinonim)
atau memakai mudladad (antonim) atau dengan syiaq yang lain.
·
Sebagian besar waktu pembelajaran digunakan untuk latihan bahasa , seperti
imla’, mengulang cerita atau mengarang bebas.[3]
·
Perhatian metode ini lebih banyak pada pengembangan kemampuan siswa untuk
berbicara dibandingkan pada aspek yang lain.
·
Materi pelajaran pertama- tama diberikan kata demi kata, kemudian struktur
kalimat.
·
Gramatika diajarkan hanya bersifat sambil lalu, dan siswa tidak dituntut
menghapal rumus- rumus gramatika, tapi yang utama adalah siswa mampu
mengucapkan bahasa asing secara baik.
·
Dalam proses pengajaran senantiasa menggunakan alat bantu (alat peraga)
baik alat peraga langsung, tidak langsung (benda tiruan) maupun peragaan
melalui symbol- symbol atau gerakan- gerakan tertentu.
·
Setelah masuk kelas, siswa atau anak didik benar- benar dikondisikan untuk
menerima dan bercakap- cakap dalam bahsa asing dan dilarang menggunakan bahasa
lain.[4]
·
Materi pelajaran terdiri dari kata- kata dan struktur kalimat yang banyak
digunakan sehari- hari.
·
Gramatika diajarkan dengan melalui situasi dan dilakukan secara lisan bukan
dengan cara menghafal aturan- aturan gramatika.
·
Arti yang konkrit diajarkan dengan menggunakan benda- benda sedangkan arti
yang abstrak melalui asosiasi.
·
Banyak latihan- latihan mendengar dan menirukan dengan tujuan agar dapat
dicapai penguasaan bahasa secara otomatis.
·
Aktivitas belajar banyak dilakukan di dalam kelas.
·
Bacaan mula- mula diberikan secara lisan.
·
Sejak permulaan murid dilatih untuk “berfikir dalam bahasa asing”.[5]
·
Peserta didik diberikan kesempatan untuk berlatih dengan cara tanya jawab
dengan guru/ sesamanya.
·
Materi qiroah harus disertai diskusi dengan bahasa Arab, baik dalam
menjelaskan makna yang terkandung didalam bacaan ataupun jabatan setiap kata
dalam kalimat.
Metode langsung dilihat
dari segi efektifitasnya memiliki keunggulan antara lain :
·
Siswa termotivasi untuk dapat menyebut dan mengerti kata- kata kalimat
dalam bahasa asing yang diajarkan gurunya, apalagi guru menggunakan alat peraga
dan macam- macam media yang menyenangkan.
·
Karena metode ini biasanya guru mula- mula mengajarkan kata- kata dan
kalimat- kalimat sederhana yang dapat dimengerti dan diketahui siswa dalam
bahasa sehari- hari misalnya (pena, pensil, bangku, meja, dll), siswa dapat
dengan mudah menangkap symbol- symbol bahasa asing yang diajarkan gurunya.
·
Metode ini relative banyak menggunakan berbagai macam alat peraga, apakah
video film, kaset, dan berbagai media / alat peraga yang dibuat sendiri. Metode
ini menarik minat siswa, karena sudah merasa senang/ tertarik, pelajaran terasa
tidak sulit.
·
Siswa memperoleh pengalaman langsung dan praktis, sekalipun mula- mula
kalimat yang diucapkan itu belum dimengerti dan dipahami sepenuhnya.
·
Alat ucap(lidah) siswa/ anak didik menjadi terlatih dan jika menerima
ucapan- ucapan yang semula sering terdengar dan terucap.[6]
·
Lebih mengutamakan ketrampilan kalam.
·
Menjauhi penggunaan terjamah dalam pembelajaran bahasa Arab.
·
Bahasa ibu tidak memiliki tempat dalam pembelajaran bahasa Arab
·
Menggabungkan secara langsung antara kata- kata dengan apa yang dimaksud
dengan kata- kata tersebut.
·
Tidak menggunakan hukum- hukum nahwu.
·
Menggunakan prinsip menirukan dan menghafal.
·
Mempersiapkan pengetahuan bahasa yang bermanfaat bagi ujaran dalam konteks.
·
Cocok dan sesuai bagi tingkat- tingkat linguistic para siswa.
·
Beberapa penampilan dan pajangan bagi tuntunan spontan.[7]
Namun demikian metode
langsung memiliki kekurangan- kekurangan didalamnya yaitu :
·
Pengajaran dapat menjadi pasif, jika guru tidak dapat memotivasi siswa,
bahkan mungkin sekali siswa merasa jenuh dan merasa dongkol karena kata- kata
dan kalimat yang dituturkan gurunya itu tidak pernah dapat dimengerti, karena
memang guru hanya menggunakan bahasa asing tanpa diterjemahkan kedalam bahasa
anak.
·
Pada tingkat permulaan kelihatannya metode ini terasa sulit diterapkan,
karena siswa belum memiliki bahan (perbendaharaan kata- kata) yang sudah
dimengerti.
·
Meskipun pada dasarnya metode ini guru tidak boleh menggunakan bahasa
sehari- hari dalam menyampaikan bahan pelajaran bahasa asing tapi pada
kenyataannya tidak selalu konsisten demikian,guru terpaksa misalnya
menerjemahkan kata- kata sulit bahasa asing itu kedalam bahasa anak didik.[8]
·
Penguasaan bahasa yang sempurna biasanya sukar bisa dicapai.
·
Sukar sekali diterapkan pada kelas yang besar.
·
Memerlukan pengajaran yang memiliki kemampuan aktif dalam bahasa asing yang
diajarkan.
·
Dengan menggunakan hanya bahasa asing kerapkali banyak waktu terbuang, sebab
bahasa ibu kadang lebih efektif dipakai untuk menjelaskan berbagai macam aspek
bahasa.[9]
·
Metode ini lebih mementingkan ketrampilan kalam dibandingkan ketrampilan
yang lain.
·
Karena tidak menggunakan bahasa ibu maka memerlukan lebih banyak keseriusan
sehingga banyak waktu terbuang.
·
Seorang pengajar tidak boleh melakukan kesalahan nahwiyah dalam menyusun
kalimat.
·
Sangat membutuhkan guru yang terampil dan fasih.
·
Sukar menyediakan berbagai kegiatan yang menarik dan bersifat situasi
didalam kelas.[10]
Contoh pembelajaran
bahasa Arab dengan menggunakan metode mubasyarah adalah sebagai berikut:
Pertama : guru membuka
pelajaran dengan langsung berbbicara dengan bahasa Arab, mengucapkan salam dan
bertanya mengenai pelajaran saat itu. Siswa menjawab pertanyaan dengan bahasa
Arab. Demikian guru meneruskan pertanyaan- pertanyaan dan sesekali memberi
perintah.
Kedua : pelajaran berkembang diseputar
sebuah gambar yang menjadi untuk mengajarkan mufradat (kosakata). Berbagai
tindakan dan obyek didiskusikan sesuai dengan kegiatan yang terpampang dalam
gambar. Guru mendemontrasikan konsep yang belum jelas (abstrak) dengan cara
mengulang- ulang sampai seluruh siswa memahaminya. Kemudian siswa mengulangi
kata- kata dan ungkapan- ungkapan baru serta mencoba membuat kalimat sendiri
sebagai jawaban terhadap pertanyaan guru.
Ketiga
: setelah mufradat dipelajari dan dipahami, maka guru menyuruh siswa
membaca teks bacaan mengenai tema yang sama dengan suara yang keras. Guru
membawa contoh kalimat yang dibaca terlebih dahulu dan siswa menirukan. Bagian
yang menjadi inti pelajaran tidak diterjemahkan, tetapi guru menguji pemahaman
siswa dengan mengajukan pertanyaan dalam bahasa Arab dan harus dijawab oleh
siswa dengan bahasa Arab pula. Kalau menemui kesulitan maka guru mengulang
penjelasan dengan singkat dengan bahasa Arab dan siswa mencatat.
Keempat
: Pelajaran bisa diakhiri dengan bernyanyi bersama.[11]
Metode ini sebenarnya tepat sekali digunakan pada tingkat permulaan maupun
karena siswa mermasa memiliki bahan untuk bercakap/ berkomunitas, sanksi-
sanksi dapat diterapkan bagi mereka yang menggunakan bahasa sehari- hari.
Media bashariyah (media
pandang/ visual)
Media bashariyah (media pandang/ visual) dapat berupa alat peraga, yaitu benda-
benda alamiyah, orang dan kejadian, tiruan benda- benda alamiah, orang dan
kejadian, dan gambar benda- benda alamiah, orang dan kejadian.
Benda- benda alamiah yang dapat dihadirkan dengan mudah ke sekolah atau
dapat ditunjuk langsung merupakan media pandang yang cukup efektif untuk
digunakan, misalnya alat- alat sekolah, alat olahraga, dan benda- benda sekitar
sekolah. Jika benda alamiah tidak mungkin dihadirkan maka dapat diganti dengan
tiruannya yang sekarang ini cukup mudah didapatkan, misalnya buah- buahan dari
plastic, mobil- mobilan, perkakas rumah tangga, baik gambar sederhana maupun
gambar hasil peralatan mutakhirnya.
Media pandang lainnya
adalah kartu dengan segala bentuknya, yang meliputi:
1)
Kartu huruf
3)
Kartu kalimat
4)
Kartu gambar.
Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab, benda- benda tiruan dan gambar
merupakan media yang cukup efektif untuk digunakan, terutama untuk pengenalan
mufradat dan pola kalimat. Benda- benda dan gambar itu dapat diletakkan
disudut- sudut ruangan atau ditempel di dinding sebagai pajangan. Jika anak
telah dapat membaca, dibawah setiap gambar atau barang tiruan itu dapat
disertakan namanya dengan bahasa Arab.
B.
Metode Alamiah (Natural Method)
Metode Alamiah (Natural Method) disebut demikian karena dalam proses
belajar, siswa dibawa ke alam seperti halnya pelajaran bahasa ibu sendiri.
Dalam pelaksanakannya, metode ini tidak jauh berbeda dengan metode lengsung
(direct) dimana guru menyajikan materi pelajaran langsung dalam bahasa asing
tanpa diterjemahkan sedikitpun, kecuali dalam hal- hal tertentu di mana kamus
dan bahasa anak didik dapat digunakan.
Ciri- ciri metode ini
antara lain :
·
Urutan pelajaran mula- mula diberikan melalui menyimak/ mendengarkan
(listening) baru kemudian percakapan (speaking), membaca (reading), menulis
(writing) terakhir baru gramatika.
·
Pelajaran disajikan mula- mula memperkenalkan kata- kata yang sederhana
yang telah diketahui anak didik, kemudian mempraktikan benda- benda mulai dari
benda- benda yang ada didalam kelas, dirumah dan diluar kelas, bahkan mengenal
luar negri atau Negara- Negara asing terutama Timur Tengah.
·
Alat peraga dan kamus yang dapat yang dapat digunakan sewaktu- waktu sangat
diperlukan, misalnya untuk menjelaskan dan mengartikan kata- kata sulit dalam
bahasa asing dan memperbanyak perbendaharaan kata- kata atau memperkaya
vocabulary sebagai syarat utama menguasai bahasa asing.
·
Oleh karena kemampuan dan kelancaran membaca dan bercakap- cakap sangat
diutamakan dalam metode ini maka pelajaran gramatikal (tata bahasa) kurang
diperhatikan.[12]
·
Menggunakan beberapa pengajar secara bergantian, sehingga anak
didik mendengar bunyi kata dan kalimat dari orang yang berbeda.
Keunggulan metode ini,
antara lain :
1.
Pada tingkat lanjutan metode ini sangat efektif, karena setiap individu
siswa dibawa kedalam suasana lingkungan sesungguhnya untuk aktif mendengarkan
dan menggunakan percakapan dalam bahasa asing.
2.
Pengajaran membaca dan bercakap- cakap dalm bahasa asing sangat diutamakan,
sedangkan pelajaran gramatikal diajarkan sewaktu- waktu saja.
3.
Pengajaran menjadi bermakna dan mudah diserap siswa, karena setiap kata dan
kalimat yang diajarkan memiliki konteks (hubungan) dengan dunia (kehidupan
sehari- hari) siswa/ anak didik.
Segi kekurangan metode
ini, antara lain :
1.
Siswa merasa kesulitan belajar apabila belum memiliki bekal dasar bahasa
asing terutama pada tingkat- tingkat pemuja, sehingga penggunaan/ pemakaian
bahasa asli siswa tidak dapat dihindari. Dengan demikian, tujuan semula dari
metode ini untuk membaca dan bercakap- cakap selalu dalam bahasa asing sulit
diterapkan secara murni, tapi harus diterapkan secara konsekuensi.
2.
Pada umumnya, anak didik dan guru bersikap tradisional mengutamakan
gramatika lebih dahulu daripada membaca dan percakapan sesuatu hal yang salah
secara ilmiah yang amat perlu diubah.
3.
Guru yang kurang memiliki kemampuan dan pengalaman praktis dalam berbahasa
asing merupakan factor sulitnya diterapkan dan berhasil secara baik metode
tersebut. Guru haruslah seorang yang aktif berbicara didalam bahasa asing
tersebut barulah murid- muridnya akan mampu pula aktif di dalam belajar
(praktik) bahasa.[13]
Dalam pelaksanaan
pembelajaran dengan metode ini guru memainkan tiga peran utama, sebagai berikut
:
·
Guru sebagai sumber utama penyedia comprehensible input dalam bahasa
sasaran. Guru diharuskan bisa menyediakan waktu yang banyak untuk memberikan
input bahasa dengan berbagai macam bantuan seperti isyarat sehingga anak bisa
menafsirkan input yang diberikan.
·
Guru berperan sebagai pencipta suasana kelompok yang menarik dan
santai serta ramah sehingga akan meminimalkan terjadinya affective filter dalam
belajar. Untuk meminimalkan terjadinya affective filter ini, guru tidak memaksa
anak untuk berbicara di dalam kelompok sebelum mereka siap untuk
berbicara;guru tidak mengoreksi kesalahan yang dibuat anak; dan guru memberikan
bahan pelajaran yang sesuai dengan minat anak.
·
Guru berperan sebagai penanggung jawab dan pemilih, mengumpulkan dan
merancang materi pelajaran dan kegiatan kelompok yang beraneka ragam
untuk digunakan dalam kelompok Dalam memilih bahan pelajaran tidak hanya
dipilih berdasarkan persepsi guru semata akan tetapi juga harus
mempertimbangkan minat dan kebutuhan anak, disamping guru juga harus memilih
situasi atau kegiatan yang tepat untuk penyajian materi tertentu.
Sedangkan peran anak
dalam pembelajaran dengan metode natural menurut Bambang Setiadi,dkk (2004;
4.7) dapat dilihat dari tahap – tahap sebagai berikut:
·
Tahap pre-production, anak berpartisipasi dalam kegiatan kelompok
tanpa harus memberikan respon atau berbicara selain bahasa asing yang
dipelajari. Kegiatan seperti ini misalnya dengan cara memperagakan atau
menunjukkan perintah, ungkapan atau gambar – gambar yang diceritakan guru.
·
Tahap early- production , anak diberi kesempatan untuk menjawab
pertanyaan– pertanyaan sederhana yang diajukan oleh guru. Jawaban anak terdiri
dari satu kata atau satu frase pendek.
·
Tahap speech-emergent, anak sudah terlibat dalam kegiatan bermain
peran dan permainan
[1]Drs. H. Ahmad Izzan,M Ag. Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora.2009,86.
[3]H.M Abdul Hamid,M.A,H.Uril
Baharudin, M.A dan Bisri Musthofa M.A, Pembelajaran Bahasa Arab, UIN-
Malang Press, 2008,23-25
[4]Drs. H. Ahmad Izzan,M Ag. Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora.2009,87.
[5]Muljanto Sumardi, Pengajaran
Bahasa Asing,Jakarta : Bulan Bintang,1974,33.
[6]Drs. H. Ahmad Izzan,M Ag. Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora.2009,87
[7]Muljanto Sumardi, Pengajaran
Bahasa Asing,Jakarta : Bulan Bintang,1974,25.
[8]H. Ahmad Izzan,M Ag. Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora.2009,88.
[9]Drs. Ahmad Muhtadi Anshor,
M.Ag, Pengajaran Bahasa Arab. Yogyakarta: Penerbit TERAS, 2009,69.
[10]H.M Abdul Hamid,M.A,H.Uril
Baharudin, M.A dan Bisri Musthofa M.A, Pembelajaran Bahasa Arab, UIN-
Malang Press, 2008,25.
[11]Ibid, 26.
[12]H. Ahmad Izzan,M Ag. Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora.2009,89.
[13]Ibid,89-90
Langganan:
Postingan (Atom)
