1. 2. Read more: http://impoint.blogspot.com/2013/03/cara-membuat-efek-salju-daun-bintang.html#ixzz2QzLgXhdI Dilarang copy paste artikel tanpa menggunakan sumber link - DMCA Protected Follow us: @ravdania on Twitter | pemakan.worell on Facebook

Jumat, 21 Juni 2013

lingkungan sebagai media pembelajaran bahasa arab..



lingkungan sebagai media pembelajaran bahasa arab
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran lebih bermakna disebabkan para siswa dihadapkan langsung dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, dan kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan. Disamping itu, guru juga berharap siswa akan lebih akrab dengan lingkungan sehingga menumbuhkan rasa cinta akan lingkungan sekitarnya
Lingkungan sebagai media pembelajaran dikelompokkan menjadi tiga yaitu lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan buatan. Dengan cara yang tepat dan persiapan yang matang, semua jenis lingkungan bisa dimanfaatkan secara maksimal
.
Pandangan sempit tentang pembelajaran di dalam kelas saja harus dihilangkan karena pelajaran diluar kelas akan memperkaya pengetahuan siswa dan lebih memotivasi mereka dalam bidang studi yang sedang dipelajari.

B.     Tujuan Pembahasan
1.      Mengetahui pengertian lingkungan
2.      Mengetahui tujuan lingkungan sebagai media pembelajaran
3.      Mengetahui jenis-jenis lingkungan sebagai media pembelajaran
4.      Mengetahui keuntungan menggunakan lingkungan sebagai media pembelajaran bahasa Arab
5.      Mengetahui teknik penggunaan lingkungan sebagai media pembalajaran bahasa Arab



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Lingkungan
Mempelajari  tentang seluk beluk serta pemanfaatan lingkungan ternyata siswa bukan hanya diajak untuk mempelajari konsep lingkungan, tetapi lingkungan pun dapat menjadi salah satu sumber belajar. Hal ini senada dengan pernyataan dan penuturan  dari DEPDIKNAS yang mengemukakan bahwa belajar dengan menggunakan lingkungan memungkinkan siswa menemukan hubungan yang sangat bermakna antara ide-ide abstrak dan penerapan praktis di dalam konteks dunia nyata, konsep dipahami melalui proses penemuan, pemberdayaan dan hubungan.[1]
·            Winaputra mengatakan bahwa pemanfaatan lingkungan didasari oleh pendapat pembalajaran yang lebih bernilai, sebab para siswa diharapkan dengan peristiwa  dan keadaan yang seharusnya. Samatowa mengatakan bahwa pembelajaran dapat dilakukan di luar kelas dengan memanfaatkan lingkungan sebagai laboratorium alam. Selain itu, Iskandar menyatakan bangkitnya motivasi belajar intrinsic siswa sangat dipengaruhi oleh motivasi ekstrinsik yaitu behavator (lingkungan).[2]
·            Suleman mendefinisikan bahwa lingkungan merupakan suatu keadaan di sekitar kita. Lingkungan secara umum terbagi atas dua jenis yaitu lingkungan alam dan lingkungan buatan.
·            Dikti mengemukakan bahwa anak-anak usia muda sangat muda diajak untuk memahami faktor-faktor yang  mempengaruhi penurunan kualitas lingkungan hidup. Kita semuanya menyadari kualitas lingkungan dari hari ke hari, dari generasi ke generasi bukannya semakin membaik tetapi malah sebaliknya.
Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan merupakan sumber belajar yang paling efektif dan efisien serta tidak membutuhkan biaya yang besar dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik.


B.     Tujuan lingkungan sebagai media pembelajaran
Tujuan pemanfaatan lingkungan masyarakat sebagai sumber belajar adalah untuk mengupayakan agar terjadi proses komunikasi atau interaksi antara sekolah khususnya para siswa dan masyarakat. Interaksi yang baik akan menumbuhkan saling pengertian antara kedua pihak. Sehingga miskomunikasi tidak akan terjadi. Harapannya adalah terjadinya peningkatan relevansi antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan adanya pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini guru juga berharap siswa akan lebih akrab dengan lingkungan sehingga menumbuhkan rasa cinta akan lingkungan sekitarnya.[3]

C.     Jenis-jenis lingkungan sebagai media pembelajaran
1.      Lingkungan sosial
Lingkungan sosial sebagai sumber belajar berkenaan dengan interaksi manusia dengan kehidupan bermasyarakat, seperti organisasi sosial, adat dan kebiasaan, mata pencaharian, kebudayaan, pendidikan, kependudukan, struktur pemerintahan, agama dan sistem nilai. Lingkungan sosial tepat digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan.
Dalam praktek pengajaran penggunaan lingkungan sosial sebagai media dan sumber belajar hendaknya dimulai dari lingkungan yang paling dekat, seperti keluarga, tetangga, rukun tetangga, rukun warga, kampung, desa, kecamatan dan seterusnya. Hal ini disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku dan tingkat perkembangan anak didik.
Contoh : Dalam pelajaran Ilmu Bumi dan Kependudukan siswa diberi tugas untuk mempelajari aspek kependudukan di rukun tetangganya. Siswa diminta untuk mempelajari jumlah penduduknya, jumlah keluarga, komposisi penduduk menurut umur, agama, mata pencaharian, tingkat pendidikan, peserta KB, pertambahan penduduk dari tahun ke tahun dan lain-lain. Dalam studi ini siswa menghubungi ketua RT dan bertanya kepadanya, disamping melihat sendiri keadaan penduduk di RT tersebut. Hasilnya dicatat dan dilaporkan di sekolah untuk dipelajari lebih lanjut.
Melalui kegiatan belajar seperti itu, siswa dapat lebih aktif dan lebih produktif sebab ia mengerahkan usahanya untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dari sumber-sumber yang nyata dan faktual.

2.      Lingkungan alam
Lingkungan Alam adalah segala sesuatu yang sifatnya alamiah seperti keadaan geografis, iklim, suhu udara, musim, curah hujan, flora (tumbuhan), fauna (hewan), sumber daya alam (air, hutan, tanah, batu-batuan dan lain-lain).
Aspek-aspek lingkungan alam tersebut dapat dipelajari secara langsung oleh para siswa melalui cara-cara tertentu. Mengingat sifat-sifat dari gejala alam relatif tetap tidak seperti dalam lingkungan sosial, maka akan lebih mudah dipelajari para siswa. Siswa dapat mengamati dan mencatatnya secara pasti, dapat mengamati perubahan-perubahan yang terjadi termasuk prosesnya dan sebagainya. Gejala lain yang dapat dipelajari adalah kerusakan-kerusakan lingkungan alam termasuk faktor penyebabnya seperti erosi, penggundulan hutan, pencemaran air, tanah, udara, dan sebagainya.
Dengan mempelajari lingkungan alam diharapkan para siswa dapat lebih memahami materi pelajaran di sekolah serta dapat menumbuhkan cinta alam, kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan, turut serta dalam menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan serta tetap menjaga kelestarian kemampuan sumber daya alam bagi kehidupan manusia.
Contoh : Dalam pelajaran IPA, siswa diminta mempelajari lingkungan alam di tempat tinggalnya. Siswa diminta mencatat dan mempelajari suhu udaara, jenis tumbuhan, hewan, batu-batuan, kerusakan lingkungan, pencemaran dan lain-lain. Baik secara individual maupun kelompok para siswa akam melakukan kegiatan belajar seperti mengamati, bertanya kepada orang lain, membuktikan sendiri atau mencobanya. Dari kegiatan tersebut siswa akan mendapatkan pelajaran yang tidak diperolehnya di sekolah sehari-hari.
3.      Lingkungan buatan
Lingkungan yang ketiga adalah lingkungan buatan. Kalau lingkungan alam bersifat alami, sedangkan lingkungan buatan adalah lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibangun manusia untuk tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lingkungan buatan antara lain adalah irigasi atau pengairan, bendungan, pertamanan, kebun binatang, perkebunan, penghijauan, dan pembangkit tenaga listrik.
Siswa dapat mempelajari lingkungan buatan dari berbagai aspek seperti prosesnya, pemanfaatannya, fungsinya, pemeliharaannya, daya dukungnya, serta aspek lain yang berkenaan dengan pembangunan dan kepentingan manusia dan masyarakat pada umumnya. Lingkungan buatan dapat dikaitkan dengan kepentingan berbagai bidang studi yang diberikan di sekolah.
Ketiga lingkungan tersebut dapat dimanfaatkan sekolah dalam proses belajar-mengajar melalui perencanaaan seksama oleh para guru bidang studi di luar jam pelajaran dalam bentuk penugasan kepada siswa atau dalam waaktu khusus yang sengaja disiapkan pada akhir semester atau pertengahan semester. Ketika lingkungan ditempatkan sebagai media atau sumber pada bidang studi yang relevan, maka akan memperkaya materi pengajaran, memperjelas prinsip dan konsep yang dipelajari dalam bidang studi dan bisa dijadikan sebagai laboratorium belajar para siswa.[4]

D.    Keuntungan menggunakan lingkungan sebagai media pembelajaran bahasa Arab
Banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran, antara lain :
1.         Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan dibandingkan duduk di kelas selama berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi
2.         Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan langsung dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami
3.         Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga kebenarannya lebih akurat
4.         Kegiatan belajar lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, dan menguji fakta
5.         Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari sangat beraneka ragam seperti lingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lain-lain
6.         Siswa juga lebih dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada dilingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk rasa cinta akan lingkungan.[5]
E.     Teknik penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran bahasa Arab
Ada beberapa cara atau teknik bagaimana mempelajari lingkungan sebagai media dan sumber belajar, antara lain :
1.      Survey
Mengunjungi lingkungan seperti mayarakat setempat untuk mempelajari proses sosial, budaya, ekonomi, kependudukan, dan lain-lain. Kegiatan belajar dilakukan siswa melalui observasi, wawancara dengan beberapa pihak yang dipandang perlu, mempelajari data atau dokumen yang ada, dan lain-lain. Hasilnya dicatat dan dilaporkan di sekolah untuk dibahas bersama dan disimpulkan oleh guru dan siswa untuk melengkapi bahan pengajaran. Pengajaran yang dapat dilakukan untuk kegiatan survey terutama bidang studi ilmu sosial dan kemasyarakatan, seperti ekonomi, sejarah, kependudukan, hukum, sosiologi, antropologi, dan kesenian.[6]
2.      Berkemah
Kemah membutuhkan waktu yang cukup sebab siswa harus dapat menghayati bagaimana kehidupan alam seperti suhu, iklim, suasana, dan lain-lain. Kemah cocok untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam, ekologi, biologi, kimia, dan fisika. Siswa dituntut merekam apa yang ia alami, rasakan, lihat dan kerjakan selama kemah berlangsung. Hasilnya dibawa ke sekolah untuk dibahas dan dipelajari bersama-sama.
3.      Karyawisata
Karyawisata adalah kunjungan siswa keluar kelass untuk mempelajari objek tertentu sebagai bagian integral dari kegiatan kurikuler di sekolah. Sebelum karyawisata dilakukan siswa, sebaiknya direncankan terlebih dahulu objek apa yang akan akan dipelajari dan cara mempelajarinya serta kapan sebaiknya dipelajari.
Objek karyawisata harus relevan dengan bahan pengajaran. Misalnya musium untuk pelajaran sejarah, kebun binatang untuk pelajaran biologi, taman mini untuk pelajaran ilmu bumi dan kebudayaan, peneropongan bintang di Lembang untuk fisika dan astronomi. Karyawisata sebaiknya dilakukan pada akhir semester atau tengah semester dan dikaitkan dengan keperluan pengajaran dari berbagai bidang studi.[7]

4.      Praktik lapangan
Praktek lapangan dilakukan oleh para siswa untuk memperoleh keterampilan dan kecakapan khusus. Misalnya siswa SPG diterjunkan ke sekolah dasar untuk melatih kemampuan sebagai guru di sekolah. Siswa SMEA dikirim ke perusahaan untuk mempelajari dan mempraktekkan pembukuan, akuntansi dan lain-lain. Dengan demikian praktek lapangan berkenaan dengan keterampilan tertentu sehingga lebih tepat untuk sekolah-sekolah kejuruan.[8]
5.      Mengundang manusia sebagai narasumber
Jika cara sebelumnya kelas dibawa ke masyarakat, pada cara ini narasumber yang diundang ke sekolah untuk memberikan penjelasan mengenai keahliannyadi hadapan para siswa. Misalnya mengundang dokter atau mantri kesehatan untuk menjelaskan cara bercocok tanam, dan lain-lain. Narasumber yang diundang harus relevan dengan kebutuhan belajar siswa.[9]






  



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
·         Lingkungan merupakan sumber belajar yang paling efektif dan efisien serta tidak membutuhkan biaya yang besar dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
·         Tujuan pemanfaatan lingkungan masyarakat sebagai sumber belajar adalah untuk mengupayakan agar terjadi proses komunikasi atau interaksi antara sekolah khususnya para siswa dan masyarakat.
·         Jenis-jenis lingkungan sebagai media pembelajaran :
a.       Lingkungan sosial
Lingkungan sosial sebagai sumber belajar berkenaan dengan interaksi manusia dengan kehidupan bermasyarakat.
b.      Lingkungan alam
Lingkungan Alam adalah segala sesuatu yang sifatnya alamiah.
c.        Lingkungan buatan
Lingkungan buatan adalah lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibangun manusia.
·         Dalam pembelajaran yang menggunakan media lingkungan ini, kita akan banyak memperoleh keuntungan-keuntungan.
·         Teknik penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran bahasa Arab :
a.       Survey
b.      Berkemah
c.       Karyawisata
d.      Praktik lapangan
e.       Mengundang manusia sebagai narasumber.




DAFTAR PUSTAKA

Burton, W.H., The Guidance Of Learning Activities. Bab VII.
Depdiknas. 1990. Menejemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.
Grambs, J.D. et al., Modern Methods In Secondary Education. Bab VIII.
Iskandar, Sindi. 1997. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Hilton Convention Center
Muhamad, Nurdin. 2011. Belajar Dengan Pendekatan PALKEM. Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution. 1995. Didaktik Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Olsen, G.B., School And Community.
Samatowa, Usman. 2006. Bagaimana Pembelajaran IPA Di Sekolah Dasar. Jakarta: PT. Pustaka
Indonesia Pers
Winaputra, Udin. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka




[1] Depdiknas, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, (Jakarta: Dirjen Dikdasmen, 1990), 9.
[2] Udin Winaputra, strategi belajar mengajar, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1997), 5-7.
[3] Iskandar, pendidikan ilmu pengetahuan alam, (Jakarta: Hilton Convention Centre, 1997), 78.
[4] Samatowa, strategi pembelajaran, (Jakarta: Bagaimana Membelajarkan IPA di Sekolah Dasar, 2006), 173.
[5] Nurdin Muhamad, belajar dengan pendekatan PAILKEM, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 146.
[6] Olsen, School and Community.
[7] Grambs, Modern Methods in Secondary Education, Bab VIII.
[8] Burton, The Guindance of Learning Activities, Bab VII.
[9] Nasution, didaktik asas mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 132.

2 komentar:

  1. Незарий предало мнелоги отени от
    Незарий предало мнелоги titanium teeth отени отени mens wedding bands titanium отени отени отени отени отени titanium mens wedding bands отени titanium oxide formula отени отени отени отени 2018 ford fusion hybrid titanium отени отени.

    BalasHapus