lingkungan sebagai media pembelajaran bahasa arab
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Pemanfaatan lingkungan
sebagai media pembelajaran lebih bermakna disebabkan para siswa dihadapkan
langsung dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami, sehingga
lebih nyata, lebih faktual, dan kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan.
Disamping itu, guru juga berharap siswa akan lebih akrab dengan lingkungan
sehingga menumbuhkan rasa cinta akan lingkungan sekitarnya
Lingkungan
sebagai media pembelajaran dikelompokkan menjadi tiga yaitu lingkungan sosial,
lingkungan alam, dan lingkungan buatan. Dengan cara yang tepat dan persiapan
yang matang, semua jenis lingkungan bisa dimanfaatkan secara maksimal
.
Pandangan
sempit tentang pembelajaran di dalam kelas saja harus dihilangkan karena
pelajaran diluar kelas akan memperkaya pengetahuan siswa dan lebih memotivasi
mereka dalam bidang studi yang sedang dipelajari.
B.
Tujuan
Pembahasan
1.
Mengetahui
pengertian lingkungan
2.
Mengetahui
tujuan lingkungan sebagai media pembelajaran
3.
Mengetahui
jenis-jenis lingkungan sebagai media pembelajaran
4.
Mengetahui
keuntungan menggunakan lingkungan sebagai media pembelajaran bahasa Arab
5.
Mengetahui
teknik penggunaan lingkungan sebagai media pembalajaran bahasa Arab
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Lingkungan
Mempelajari tentang seluk beluk serta pemanfaatan
lingkungan ternyata siswa bukan hanya diajak untuk mempelajari konsep
lingkungan, tetapi lingkungan pun dapat menjadi salah satu sumber belajar. Hal
ini senada dengan pernyataan dan penuturan
dari DEPDIKNAS yang mengemukakan bahwa belajar dengan menggunakan
lingkungan memungkinkan siswa menemukan hubungan yang sangat bermakna antara
ide-ide abstrak dan penerapan praktis di dalam konteks dunia nyata, konsep
dipahami melalui proses penemuan, pemberdayaan dan hubungan.[1]
·
Winaputra
mengatakan bahwa pemanfaatan lingkungan didasari oleh pendapat pembalajaran
yang lebih bernilai, sebab para siswa diharapkan dengan peristiwa dan keadaan yang seharusnya. Samatowa
mengatakan bahwa pembelajaran dapat dilakukan di luar kelas dengan memanfaatkan
lingkungan sebagai laboratorium alam. Selain itu, Iskandar menyatakan
bangkitnya motivasi belajar intrinsic siswa sangat dipengaruhi oleh motivasi
ekstrinsik yaitu behavator (lingkungan).[2]
·
Suleman
mendefinisikan bahwa lingkungan merupakan suatu keadaan di sekitar kita.
Lingkungan secara umum terbagi atas dua jenis yaitu lingkungan alam dan
lingkungan buatan.
·
Dikti
mengemukakan bahwa anak-anak usia muda sangat muda diajak untuk memahami faktor-faktor
yang mempengaruhi penurunan kualitas
lingkungan hidup. Kita semuanya menyadari kualitas lingkungan dari hari ke
hari, dari generasi ke generasi bukannya semakin membaik tetapi malah
sebaliknya.
Berdasarkan keterangan di atas, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan merupakan sumber belajar yang paling
efektif dan efisien serta tidak membutuhkan biaya yang besar dalam meningkatkan
motivasi belajar peserta didik.
B.
Tujuan
lingkungan sebagai media pembelajaran
Tujuan
pemanfaatan lingkungan masyarakat sebagai sumber belajar adalah untuk
mengupayakan agar terjadi proses komunikasi atau interaksi antara sekolah
khususnya para siswa dan masyarakat. Interaksi yang baik akan menumbuhkan
saling pengertian antara kedua pihak. Sehingga miskomunikasi tidak akan
terjadi. Harapannya adalah terjadinya peningkatan relevansi antara kurikulum
sekolah dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan adanya
pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini guru juga berharap siswa
akan lebih akrab dengan lingkungan sehingga menumbuhkan rasa cinta akan
lingkungan sekitarnya.[3]
C.
Jenis-jenis
lingkungan sebagai media pembelajaran
1.
Lingkungan sosial
Lingkungan sosial sebagai sumber belajar
berkenaan dengan interaksi manusia dengan kehidupan bermasyarakat, seperti
organisasi sosial, adat dan kebiasaan, mata pencaharian, kebudayaan,
pendidikan, kependudukan, struktur pemerintahan, agama dan sistem nilai.
Lingkungan sosial tepat digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu sosial dan
kemanusiaan.
Dalam praktek pengajaran penggunaan lingkungan
sosial sebagai media dan sumber belajar hendaknya dimulai dari lingkungan yang
paling dekat, seperti keluarga, tetangga, rukun tetangga, rukun warga, kampung,
desa, kecamatan dan seterusnya. Hal ini disesuaikan dengan kurikulum yang
berlaku dan tingkat perkembangan anak didik.
Contoh : Dalam pelajaran Ilmu Bumi dan
Kependudukan siswa diberi tugas untuk mempelajari aspek kependudukan di rukun
tetangganya. Siswa diminta untuk mempelajari jumlah penduduknya, jumlah
keluarga, komposisi penduduk menurut umur, agama, mata pencaharian, tingkat
pendidikan, peserta KB, pertambahan penduduk dari tahun ke tahun dan lain-lain.
Dalam studi ini siswa menghubungi ketua RT dan bertanya kepadanya, disamping
melihat sendiri keadaan penduduk di RT tersebut. Hasilnya dicatat dan
dilaporkan di sekolah untuk dipelajari lebih lanjut.
Melalui kegiatan belajar seperti itu, siswa
dapat lebih aktif dan lebih produktif sebab ia mengerahkan usahanya untuk
memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dari sumber-sumber yang nyata dan
faktual.
2.
Lingkungan alam
Lingkungan Alam adalah segala sesuatu yang
sifatnya alamiah seperti keadaan geografis, iklim, suhu udara, musim, curah
hujan, flora (tumbuhan), fauna (hewan), sumber daya alam (air, hutan, tanah,
batu-batuan dan lain-lain).
Aspek-aspek lingkungan alam tersebut dapat
dipelajari secara langsung oleh para siswa melalui cara-cara tertentu.
Mengingat sifat-sifat dari gejala alam relatif tetap tidak seperti dalam
lingkungan sosial, maka akan lebih mudah dipelajari para siswa. Siswa dapat
mengamati dan mencatatnya secara pasti, dapat mengamati perubahan-perubahan
yang terjadi termasuk prosesnya dan sebagainya. Gejala lain yang dapat
dipelajari adalah kerusakan-kerusakan lingkungan alam termasuk faktor
penyebabnya seperti erosi, penggundulan hutan, pencemaran air, tanah, udara,
dan sebagainya.
Dengan mempelajari lingkungan alam diharapkan
para siswa dapat lebih memahami materi pelajaran di sekolah serta dapat
menumbuhkan cinta alam, kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan,
turut serta dalam menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan serta tetap
menjaga kelestarian kemampuan sumber daya alam bagi kehidupan manusia.
Contoh : Dalam pelajaran IPA, siswa diminta
mempelajari lingkungan alam di tempat tinggalnya. Siswa diminta mencatat dan
mempelajari suhu udaara, jenis tumbuhan, hewan, batu-batuan, kerusakan
lingkungan, pencemaran dan lain-lain. Baik secara individual maupun kelompok
para siswa akam melakukan kegiatan belajar seperti mengamati, bertanya kepada
orang lain, membuktikan sendiri atau mencobanya. Dari kegiatan tersebut siswa
akan mendapatkan pelajaran yang tidak diperolehnya di sekolah sehari-hari.
3.
Lingkungan
buatan
Lingkungan yang ketiga adalah lingkungan
buatan. Kalau lingkungan alam bersifat alami, sedangkan lingkungan buatan
adalah lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibangun manusia untuk
tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lingkungan
buatan antara lain adalah irigasi atau pengairan, bendungan, pertamanan, kebun
binatang, perkebunan, penghijauan, dan pembangkit tenaga listrik.
Siswa dapat mempelajari lingkungan buatan dari
berbagai aspek seperti prosesnya, pemanfaatannya, fungsinya, pemeliharaannya,
daya dukungnya, serta aspek lain yang berkenaan dengan pembangunan dan
kepentingan manusia dan masyarakat pada umumnya. Lingkungan buatan dapat
dikaitkan dengan kepentingan berbagai bidang studi yang diberikan di sekolah.
Ketiga lingkungan tersebut dapat dimanfaatkan
sekolah dalam proses belajar-mengajar melalui perencanaaan seksama oleh para
guru bidang studi di luar jam pelajaran dalam bentuk penugasan kepada siswa
atau dalam waaktu khusus yang sengaja disiapkan pada akhir semester atau
pertengahan semester. Ketika lingkungan ditempatkan sebagai media atau sumber
pada bidang studi yang relevan, maka akan memperkaya materi pengajaran,
memperjelas prinsip dan konsep yang dipelajari dalam bidang studi dan bisa dijadikan
sebagai laboratorium belajar para siswa.[4]
D.
Keuntungan menggunakan
lingkungan sebagai media pembelajaran bahasa Arab
Banyak
keuntungan yang dapat diperoleh
dari penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran, antara lain :
1.
Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak
membosankan dibandingkan duduk di kelas selama berjam-jam, sehingga motivasi
belajar siswa akan lebih tinggi
2.
Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa
dihadapkan langsung dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat
alami
3.
Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya
serta lebih faktual sehingga kebenarannya lebih akurat
4.
Kegiatan belajar lebih komprehensif dan lebih
aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya
atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, dan menguji fakta
5.
Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab
lingkungan yang dapat dipelajari sangat beraneka ragam seperti lingkungan
sosial, lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lain-lain
6.
Siswa juga lebih dapat memahami dan menghayati
aspek-aspek kehidupan yang ada dilingkungannya, sehingga dapat membentuk
pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk
rasa cinta akan lingkungan.[5]
E.
Teknik
penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran bahasa Arab
Ada beberapa
cara atau teknik bagaimana mempelajari lingkungan sebagai media dan sumber
belajar, antara lain :
1.
Survey
Mengunjungi lingkungan seperti mayarakat
setempat untuk mempelajari proses sosial, budaya, ekonomi, kependudukan, dan
lain-lain. Kegiatan belajar dilakukan siswa melalui observasi, wawancara dengan
beberapa pihak yang dipandang perlu, mempelajari data atau dokumen yang ada,
dan lain-lain. Hasilnya dicatat dan dilaporkan di sekolah untuk dibahas bersama
dan disimpulkan oleh guru dan siswa untuk melengkapi bahan pengajaran.
Pengajaran yang dapat dilakukan untuk kegiatan survey terutama bidang studi
ilmu sosial dan kemasyarakatan, seperti ekonomi, sejarah, kependudukan, hukum,
sosiologi, antropologi, dan kesenian.[6]
2.
Berkemah
Kemah membutuhkan waktu yang cukup sebab siswa
harus dapat menghayati bagaimana kehidupan alam seperti suhu, iklim, suasana,
dan lain-lain. Kemah cocok untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam, ekologi,
biologi, kimia, dan fisika. Siswa dituntut merekam apa yang ia alami, rasakan,
lihat dan kerjakan selama kemah berlangsung. Hasilnya dibawa ke sekolah untuk
dibahas dan dipelajari bersama-sama.
3.
Karyawisata
Karyawisata adalah kunjungan siswa keluar
kelass untuk mempelajari objek tertentu sebagai bagian integral dari kegiatan
kurikuler di sekolah. Sebelum karyawisata dilakukan siswa, sebaiknya
direncankan terlebih dahulu objek apa yang akan akan dipelajari dan cara
mempelajarinya serta kapan sebaiknya dipelajari.
Objek karyawisata harus relevan dengan bahan
pengajaran. Misalnya musium untuk pelajaran sejarah, kebun binatang untuk
pelajaran biologi, taman mini untuk pelajaran ilmu bumi dan kebudayaan,
peneropongan bintang di Lembang untuk fisika dan astronomi. Karyawisata
sebaiknya dilakukan pada akhir semester atau tengah semester dan dikaitkan
dengan keperluan pengajaran dari berbagai bidang studi.[7]
4.
Praktik
lapangan
Praktek lapangan dilakukan oleh para siswa
untuk memperoleh keterampilan dan kecakapan khusus. Misalnya siswa SPG
diterjunkan ke sekolah dasar untuk melatih kemampuan sebagai guru di sekolah.
Siswa SMEA dikirim ke perusahaan untuk mempelajari dan mempraktekkan pembukuan,
akuntansi dan lain-lain. Dengan demikian praktek lapangan berkenaan dengan
keterampilan tertentu sehingga lebih tepat untuk sekolah-sekolah kejuruan.[8]
5.
Mengundang
manusia sebagai narasumber
Jika cara sebelumnya kelas dibawa ke
masyarakat, pada cara ini narasumber yang diundang ke sekolah untuk memberikan
penjelasan mengenai keahliannyadi hadapan para siswa. Misalnya mengundang
dokter atau mantri kesehatan untuk menjelaskan cara bercocok tanam, dan lain-lain.
Narasumber yang diundang harus relevan dengan kebutuhan belajar siswa.[9]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
·
Lingkungan
merupakan sumber belajar yang paling efektif dan efisien serta tidak
membutuhkan biaya yang besar dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
·
Tujuan pemanfaatan lingkungan masyarakat
sebagai sumber belajar adalah untuk mengupayakan agar terjadi proses komunikasi
atau interaksi antara sekolah khususnya para siswa dan masyarakat.
·
Jenis-jenis
lingkungan sebagai media pembelajaran :
a.
Lingkungan
sosial
Lingkungan sosial sebagai sumber belajar
berkenaan dengan interaksi manusia dengan kehidupan bermasyarakat.
b.
Lingkungan alam
Lingkungan Alam adalah segala sesuatu yang
sifatnya alamiah.
c.
Lingkungan buatan
Lingkungan buatan adalah lingkungan yang
sengaja diciptakan atau dibangun manusia.
·
Dalam
pembelajaran yang menggunakan media lingkungan ini, kita akan banyak memperoleh
keuntungan-keuntungan.
·
Teknik penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran bahasa Arab :
a.
Survey
b.
Berkemah
c.
Karyawisata
d.
Praktik
lapangan
e.
Mengundang
manusia sebagai narasumber.
DAFTAR PUSTAKA
Burton, W.H., The Guidance Of
Learning Activities. Bab VII.
Depdiknas. 1990. Menejemen
Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.
Grambs, J.D. et al., Modern
Methods In Secondary Education. Bab VIII.
Iskandar, Sindi. 1997. Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Hilton Convention Center
Muhamad, Nurdin. 2011. Belajar
Dengan Pendekatan PALKEM. Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution. 1995. Didaktik Asas
Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Olsen, G.B., School And
Community.
Samatowa, Usman. 2006. Bagaimana Pembelajaran IPA Di Sekolah
Dasar. Jakarta: PT. Pustaka
Indonesia
Pers
Winaputra, Udin. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Universitas Terbuka
[1]
Depdiknas, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, (Jakarta: Dirjen
Dikdasmen, 1990), 9.
[2]
Udin Winaputra, strategi belajar mengajar, (Jakarta: Universitas Terbuka,
1997), 5-7.
[3]
Iskandar, pendidikan ilmu pengetahuan alam, (Jakarta: Hilton Convention Centre,
1997), 78.
[4]
Samatowa, strategi pembelajaran, (Jakarta: Bagaimana Membelajarkan IPA di
Sekolah Dasar, 2006), 173.
[5]
Nurdin Muhamad, belajar dengan pendekatan PAILKEM, (Jakarta: Bumi Aksara,
2011), 146.
[6]
Olsen, School and Community.
[7]
Grambs, Modern Methods in Secondary Education, Bab VIII.
[8]
Burton, The Guindance of Learning Activities, Bab VII.
[9]
Nasution, didaktik asas mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 132.
terima kasih
BalasHapusНезарий предало мнелоги отени от
BalasHapusНезарий предало мнелоги titanium teeth отени отени mens wedding bands titanium отени отени отени отени отени titanium mens wedding bands отени titanium oxide formula отени отени отени отени 2018 ford fusion hybrid titanium отени отени.